Bupati serahkan Bantuan kepada salah satu Lansia Minsel, yang didampingi Deputi Vannetia R Danes.

Amurang, Swarasuluttv-Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA), Vennetia R Danes, dalam materi bertajuk Sosialisasi Gerakan Sayangi Lansia, di Gedung Waleta Kantor Bupati Minsel, Jumat (05/07/2019) baru-baru ini, mengatakan bahwa kekerasan terhadap Lansia sering terjadi.

Bupati Christiany E Paruntu SE, yang didampingi Deputi Kementerian PP dan PA Vannetia R Danes berfoto dengan Lansia Minsel di Gedung Waleta.

Dia menjelaskan bahwa Data SUPAS (Survey Penduduk Antar Sensus) tahun 2015, Jumlah Lansia di Indonesia berkisar di 21 609 717, terbagi atas Lansia Perempuan 11 412 855 (8,47 persen), Lansia Laki-laki hanya berjumlah 10 196 862 jiwa. Dengan asumsi harapan hidup Lansia Perempuan lebih tinggi dibanding Pria.
“Dengan begitu Permasalahan Lansia di Indonesia didominasi oleh masalah Lansia Perempuan. Masalah Lansia Perempuan di Indonesia sering mengalami Diskriminasi Ganda, baik sebagai Perempuan maupun sebagai Lansia. Diskriminasi ini dipicu oleh masalah struktur Sosial dan Budaya, Hal ini dialami sejak usia muda sebagai sifat kodrati atau persoalan gender,”
Bupati serahkan Bantuan kepada salah satu Lansia Minsel, yang didampingi Deputi Vannetia R Danes.

Dia menyebutkan bahwa di Indonesia Jumlah lansia Perempuan 53,76 persen, sedangkan Lansia Pria 46,24 persen. Rance usia yang sering mengalami kekerasan yakni diantara usia 50-64 tahun. ada yang disebut masalah ekonomi (17,25 persen), kekerasan fisik yang dilakukan pasangan (11,18 persen), dan kekerasan seksual (24,43 persen). Tak hanya itu, Lansia juga mengalami masalah hukum, anak Kandung gugat Ibu kandung sebesar 1,8 Milyar, Nenek Asyani, Nenek Minah, Nenek Saulina, diusia tua dihadapkan pada masalah hukum. Belum masalah Pasutri Lansia yang ditemukan meninggal di Rumah di Magelang. ” Tak hanya di Indonesia, di Amerika pun demikian nah sesuai data Reuter, 10 persen Lansia mengalami kekerasan, di Eropa Dua persen, di Irlandia 61 persen, di Asia 14 persen, di India 36 persen. Semua masalah ini diidentifikasi dan fatal, ini terjadi di strata Sosiodemografi dan Sosioekonomi, perlakuan kasar pada Lansia ini terjadi di saat Pelayanan kesehatan, terutama pada kunjungan Gawat Darurat, dan Rawat Inap serta di bagian Pendaftaran. “Kekerasan itu terjadi, lantaran Lansia dinilai secara fisik telah mengalami banyak kemunduran, rendahnya pemahaman terhadap Lansia, Perempuan Lansia sering di konotasikan bergantung pada orang lain, menjadi beban Keluarga, masyarakat dan negara. Padahal pada kenyataan banyak Lansia yang masih produktif dan mandiri, Oleh karena itu mereka ini harus terus diberdayakan, karena Lansia memiliki hak yang sama dengan kelompok masyarakat lainnya,” kata dia.

Lanjut dia, sementara faktor Lansia sering mendapat kekerasan, pertama aspek Budaya, Politik, Kesehatan, Ekonomi dan sosial.
“Oleh karena itu, kepedulian pemerintah dan masyarakat termasuk peranan keluarga. Kepedulian ini dapat diwujudkan melalui jaminan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, dan jaminan perlindungan hukum. Ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi tindakan eksploitasi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan ekonomi,” ujarnya.

Tambah dia, Nah, menanggapi permasalahan Lansia, KPPPA cq Deputi Perlindungan Hak Perempuan, tanggal 8 Desember 2018 lalu, sudah dilakukan kegiatan akbar bersama 1000 Lansia di TMII dengan tema Gerakan Sayangi Lansia, Semua Lansia ini adalah Orang tua kita. (dolvie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here